Showing posts with label my thoughts. Show all posts
Showing posts with label my thoughts. Show all posts

Thursday, March 25, 2010

Pendewasaan

Ya, ini hal yang selalu gue “sesalkan” kalo ngobrol ama sahabat sahabat gue, karena dari sekian taun masa remaja gue, gue belum ngerasain adanya pendewasaan dalam diri gue. Kelakuan gue masih tetep kekanak-kanakan, tetep kacrut persis waktu baru masuk SMP. Tapi tunggu, apa bener begitu?

Well, ternyata dalam perjalanan pulang dari warteb mungkin 30 menit yang lalu, di atas motor (ya, sambil ngendarain motor, tempat gue bisa berpikir tenang selain di wc) ada dua orang mungkin bapak-bapak, satu pake Honda Tiger dan satu lagi Yamaha V-ixion lagi balap balapan, seenaknya di tengah kemacetan geber-geber minta jalan, gue males ngeladenin yang kaya gitu, gue lagi jalan pelan nyantai soalnya, yo wes gue minggir deh. Saat itu gue mikir, kenapa bapak bapak gitu masih gegeberan seenaknya di jalan ramai gini, gue aja ga segitunya kok. YEP, satu hal gue dapet, ternyata pendewasaan itu udah gue dapet, sedikit demi sedikit salah satunya yaa perilaku gue di jalan itu. Dulu gue bawa motor benga abis, jauh lebih parah dibanding Akbar ataupun Aldi, selain pikiran gue yang goblok abis gue ga mikir yang bakal kehilangan gue, juga karena motor gue yang jauh lebih powerful dibanding mereka. Sejak masuk SMA, gue ngurangin kebut kebutan, gue lebih seneng konstan di 60 kpj, dengan rpm di 5.000, pengorbanan eh mengingat motor gue itu stocknya bisa ampe 11.000 rpm hahaha. Tapi ya itulah mungkin pendewasaan udah gue dapetin disini, walaupun kadang kadang tengilnya muncul ampe gue pernah ngeladenin mahasiswa UPI yang brengsek di Setiabudi, yang berakhir dengan si mahasiswa nabrak mobil yang parkir di pinggir jalan dan gue ngakak sepuasnya.

Oh ya satu hal lagi yang gue rasain, fashion. Ya, satu hal yang mungkin dianggap penting di Bandung ini. Dulu gue termasuk orang yang kebawa tren juga, tapi sekarang? Gue lebih suka make yang gue anggep nyaman. T-shirt, Levi’s 522 dan Chuck Taylor All Star, itu stelan yang selalu gue pake. Mungkin orang lain bosen liatnya, nganggep gue cupu atau apalah, tapi memang itu gue yaa gimana lagi sih, kalo cupu doang udah gue akuin dari dulu gue orang cupu, so what? Hahahaha.

Udah ah, bosen juga gue nulis panjang. Pesen gue sih yaa bagi yang belum ngerasain adanya pendewasaan, coba pikir lagi, pasti ada bagian dari diri kalian yang udah mengalaminya, dan juga mending pede ama style kalian sendiri. Udahan ah beneran bosen nulis panjang hahahaha.

Tuesday, December 9, 2008

Nasionalisme Dadakan

Ada satu hal yang membuat saya selalu bertanya-tanya mengenai bangsa ini. Mengapa nasionalisme bangsa ini baru muncul ketika mengikuti ajang olahraga(ama 17 agustusan deh)? Mengapa justru ketika hal-hal yang lebih penting terjadi rasa itu tidak muncul? Seperti ketika terjadi pertikaian yang mengancam keutuhan bangsa, mengapa?

Apakah kita hanya dapat melihat bangsa ini bersatu ketika berlangsungnya Piala AFF? Piala Thomas? Uber? Asian Games? Mengapa? Mengapa justru ketika berlangsung Liga Indonesia bangsa ini bertikai dengan mengatasnamakan daerah tanpa memikirkan bahwa mereka sebangsa, sebahasa, setanah-air, mengapa?

Mengapa pula ketika pemerintah mengumumkan kebijakan yang "tidak bijak" walaupun itu hal yang urgen kita harus menentang habis? Mengapa kita tidak dapat menerima keadaan bangsa ini apa adanya? Bukankah menerima keadaan bangsa apa adanya juga termasuk nasionalisme? Namun bukan berarti kita harus diam saja, tentu kita harus menerima lalu berusaha memperbaikinya agar negara ini lebih baik lagi. Tapi mengapa justru kebanyakan dari kita menolak kenyataan dan mengkambinghitamkan pemerintah atas nasib bangsa ini? Sepertinya di negara ini berlaku ungkapan ini, "Aku cinta negeri ini, tapi tidak suka dengan sistem yang ada."

Saya memiliki cerita lucu mengenai nasionalisme dadakan ini.
Ketika saya menonton GP Qatar di sirkuit Losail, disana ada cukup banyak TKI yang tampak bersemangat mendukung DoTa, mengingat ini GP pembuka, dan pertamakalinya Yamaha Pertamina mengikuti GP semusim penuh. Saya melihat salah satu TKI berkaos unik bertuliskan "PSSI BANGSAT". Hello, saya tahu PSSI brengsek(sorry, opinion), ketuanya koruptor, tapi bukankah lebih baik jika kita mengevaluasi, memperbaiki, dibandingkan mencela.

Inti dari omongan gapenting saya ini tuh, kenapa kita ga berusaha memunculkan nasionalisme dengan memperbaiki kondisi bangsa ini(apapun lah caranya, mulai dari yang kecil aja). Kan itu lebih baik daripada mendukung timnas habis-habisan di piala AFF tapi ntar kalo kalah ngerusak stadion